Saturday, December 14, 2013

Seribu Kerinduan



                                            
    Judul Buku                           :  Seribu Kerinduan
    No.ISBN                              :  978-602-7572-19-5
    Penulis                              :  Herlina P. Dewi
    Editor                               :  Paul Agus Hariyanto
    Penerbit                             :  Stiletto Book
    Tempat dan tahun terbit              :  Jogjakarta, Oktober 2013
    Cetakan                              :  Pertama
    Jumlah Halaman                       :  249 halaman
    Harga                                :  Rp. 43.000


            “Dari awal aku udah bilang ... kita harus ketemu orang tua kamu. Tapi kamu selalu punya alasan untuk mengulur waktu. And see? Time really flies, kita udah sejauh ini sekarang. Sayang banget kalau empat tahun kebersamaan kita akan berakhir karena masalah seperti ini. It’s so ridiculous, Sayang.”
            “Ren, aku yakin kamu kecewa denganku. Tapi aku udah berusaha, aku udah mati-matian meyakinkan mereka kalau kamu pilihan paling tepat untukku. Mereka tetap nggak setuju, and the reason’s just so weird ... dan sekarang ... sekarang ... mereka mau menjodohkanku.”
            Seolah menjadi kiamat untuk Renata dan Panji, empat tahun membina kasih harus berakhir karena orang tua Panji tidak setuju dengan alasan Renata berbeda kalangan dengan Panji . Dan yang lebih menyakitkan lagi, Panji dijodohkan oleh orang tuanya dengan gadis yang sederajat bernama Ayu. Panji tak punya kuasa untuk menolak perjodohan itu, dia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Meski begitu, hatinya tetap pada Renata, seutuhnya.
            Hidup Renata benar-benar hancur. Lelaki yang teramat dicintai kini telah menjadi milik wanita lain. Karirnya sebagai fashion editor pun harus terlepaskan karena kegalauannya memikirkan Panji. Ya, dia tak bisa hidup tanpa Panji. Untuk itu, dia pun telah memutuskan menjadi seorang pelacur, karir baru persinggahannya.
            Saya dan novel pertama racikan Herlina P. Dewi ini adalah cinta pandangan pertama dan pandangan-pandangan selanjutnya :) . Judul dan covernya benar-benar membuat saya betah berlama-lama dengan buku ini. Saya termasuk orang yang menganut “Judge book by the cover” , karena orang yang cinta seni rupa. Ketika judul dengan cover sinkron dan keren berdasarkan selera saya, langsung deh jatuh cinta.
            Herlina P. Dewi  berhasil menghadirkan tokoh-tokoh tersebut dengan karakter yang sangat kuat. Jalan ceritanya pun sistematis dan dinamis. Gaya bahasanya yang ringan dan lugas membuat kita mudah memahami dan mengikuti alur ceritanya dengan baik. Kata-kata cinta terpapar dengan sangat indah, begitu pula kata-kata yang berhasil menyesakan dada saat membacanya. Sisi humor juga melengkapi segala keseriusan kisah ini.
            Seperti halnya novel-novel lainnya, Seribu Kerinduan juga diracik dengan kisah cinta yang hangat, manis, perih dan luka akan cinta dihadirkan dalam novel ini sebagai bumbu pelengkapnya.
            Ternyata banyak sekali kejutan-kejutan yang dihadirkan. Hampir tak tertebak bagaimana kisah-kisah selanjutnya. Membuat saya tidak ingin melepas buku ini sebelum akhirnya menemukan ending yang sesungguhnya.
            Sejujurnya, setelah membaca novel ini, saya mendapatkan suatu makna tentang cinta, dimana bukan hanya rasa rindu, rasa benci, dan rasa birahi belaka yang ada didalamnya, namun cinta sesungguhnya adalah mengajarkan kita rasa kemanusiaan untuk lebih bisa memahami, daripada dipahami, lebih bisa menerima daripada menolak, sehingga cinta tak akan membelenggu kita dalam rasa selalu ingin memiliki dan takut akan kehilangan.
:)

No Pict = HOAX
Jadi, ini adalah bukti saya dengan Seribu Kerinduan yang saya rasakan :)

"Untuk berapa lama hati dan pikiran ini akan terus terobsesi pada Panji?"

                    "Ah, lebih baik kurawat saja luka-luka ini. Seperti yang kulakukan di masa-masa lampau, ketika orang-orang yang kucintai pergi melupakanku."

"I can't forget you when you're gone, You're like a song that goes around in my head."



Kau harus segera temui kepalaku yang sekeras batu. Hingga detik ini Ia masih bertahan menunggumu. Jangan tanya mengapa Ia sekeras itu. ...