Tak seharusnya berprasangka lebih akan kebaikan seseorang,
sebab Ia melakukan kebaikan memang selayaknya manusia yang berperilaku baik
terhadap sesamanya. Tak seharusnya pula berprasangka lebih terhadap tatapan
mata yang terasa berbeda, sebab matanya masih berfungsi dengan baik untuk
menatap siapa-siapa saja yang ingin Ia tatap. Berhenti memaknai “sehati” apalagi
terlalu dalam. Patah hati tak selalu karena orang lain, terkadang karena
prasangka diri sendiri yang tak sejalan dengan kenyataan.
Menulis menjadi salah satu cara terbaik membisikkan
kebenaran dari hati. Yang sesungguhnya sulit dimengerti apakah memang sebuah kebenaran,
sebatas rasa penasaran, atau justru keresahan. Terkadang ada tanya yang ingin
segera terjawab-tanpa mengungkap. Tak jarang membiarkan
semuanya menguap tanpa terjawab, parahnya membuat ekspektasi dan kesimpulan
sendiri yang semakin menyiksa diri.
Mengapa bara asa masih terus menjilat dasar sukma? Karena ekspektasi
dan keinginan memiliki yang menyebabkannya sulit padam. Menghanguskan diri perlahan
demi perlahan.