Sunday, June 19, 2016

Diam Ialah Siksa

   

Ada yang seharusnya diberikan namun masih tersimpan. Ada yang seharusnya dinyanyikan namun masih tergumam. Ada yang seharusnya disampaikan namun masih terbungkam.

             Menulis adalah cara untuk membisikkan kebenaran dari hati. Yang sesungguhnya benar-benat mampu dimengerti apakah memang sebuah kebenaran, sebatas rasa penasaran, atau justru keresahan. Terkadang ada tanya yang ingin segera terjawab-tanpa mengungkap. Tak jarang membiarkan semuanya menguap tanpa terjawab, parahnya membuat ekspektasi dan kesimpulan sendiri yang semakin menyiksa diri.  

               Sebagian rasa tenggelam dalam tanda tanya diri sendiri. Selebihnya dibungkam oleh kenyataan. Begitulah kiranya kepedihan berjalan. 

     

        Jogja, 20 Juni 2016


                

MATA-MATA PARA HAKIM


Mata hakim dimana-mana. Di dunia maya apalagi nyata. Di titik tertinggi apalagi terendah mereka setia. Sungguh sulit dipahami, mata-mata macam apa yang menjadikan penghakiman sebagai hak dan gaya hidup?

 Tumbuh di dunia yang penuh dengan penghakiman sesungguhnya tidak membuat benar-benar utuh.  Mengikuti apa yang mereka mau. Menjalani apa yang menurut mereka baik. Menjauhi apa yang menurut mereka tidak pantas. Lalu untuk apa? Membuat semua mata bahagia? Kemustahilan semata. Yang ada hanya kerinduan pada dunia yang dibangun sendiri sebelumnya, dunia yang sunyi bahkan jauh dari kata jenuh.

Sebagai manusia biasa yang sedang mendewasa, sempat terusik dengan hakim-hakim tak berpenghasilan. Tapi, bukankah masa depan ialah milik sendiri? Cukup setia dengan proses lalu pencapaian-pencapaian akan mengikuti. Sampai pada saatnya para mata hakim akan tertunduk malu karena ia tak maju-maju. Kelak aku akan menjadi yang terdepan sedangkan tatapan mereka hanya kekosongan. Hanya Sang Hakim Yang sesungguhnyalah yang berhak menghakimi.


Jogja, 20 Juni 2016

Kau harus segera temui kepalaku yang sekeras batu. Hingga detik ini Ia masih bertahan menunggumu. Jangan tanya mengapa Ia sekeras itu. ...