Dipenghujung februari ini aku telah merelakan kamu termiliki.
Dipenghujung februari ini mataku telah siap tanpa lukisan senyummu.
Dipenghujung februari ini aku telah siap tanpa lelucon garingmu.
Dipenghujung februari ini telingaku telah siap tanpa nyanyian syahdumu.
Dipenghujung februari ini aku telah siap tanpa pimpinmu.
Ya ! AKU SIAP TANPAMU DI HARI-HARIKU !
BUKAN KARENA AKU MENYERAH, TAPI KARENA AKU LELAH !
-WakeMeUpWhenFebruaryEnd-
Friday, February 28, 2014
Sunday, February 2, 2014
2 Februari adalah Menunggu
Tak ada 1 huruf pun darimu yaang hadir di ponselku. Tak ada 1 kata pun yang terucap dari mulutmu. Tidakkah kau sadar, diammu adalah khawatirku. Tidakkah kau sadar, pedulimu adalah harapku. Meski aku sudah biasa dengan kondisi seperti ini, namun dibalik "sudah biasa" tentu aku merasakan hal yang tak biasa. Dimana kamu sekarang ? Apa yang sedang kamu lakukan ? Siapa sosok yang berada bersamamu sekarang ?
Inginku lalui hari esok bersamamu. Hanya aku dan kamu. Ya, KITA. Berada di waktu dan tempat yang sama. Sekadar menikmati udara 3 Februari. Nyata, diam dan tenang. Tatap mata kita saling terpaut, sehingga tak ada alasan untuk saling meninggalkan. Lirih bisikku sampai di gendangmu, "Aku sangat merindukanmu. Ku mohon jangan lagi pergi jauh dariku."
Ku harap hari ini kau segera memastikan bahwa kau akan datang membawa secerca bahagia. Atau bahkan tak akan datang, sehingga melengkapi deritaku.
AKU MENUNGGUMU!
Inginku lalui hari esok bersamamu. Hanya aku dan kamu. Ya, KITA. Berada di waktu dan tempat yang sama. Sekadar menikmati udara 3 Februari. Nyata, diam dan tenang. Tatap mata kita saling terpaut, sehingga tak ada alasan untuk saling meninggalkan. Lirih bisikku sampai di gendangmu, "Aku sangat merindukanmu. Ku mohon jangan lagi pergi jauh dariku."
Ku harap hari ini kau segera memastikan bahwa kau akan datang membawa secerca bahagia. Atau bahkan tak akan datang, sehingga melengkapi deritaku.
AKU MENUNGGUMU!
Basahnya 2 Februari
Matahari 2 Februari menyapaku pagi ini. Membangunkanku dari mimpi-mimpi yang tak pasti. Ada yang berbeda dengan kedatangannya. Cahyanya tak seterang 1 Februari. Ku tanggalkan selimut yang melilitku dan ku buka mataku lebih lebar. Jendela 2 Februari telah basah tertampar tetesan hujan. Mungkin 2 Februari ini sepantasnya basah, sebasah pipiku yang terjatuhi air mata kerinduan. Sepertinya langit 2 Februari dan hatiku sedang senada, seirama. Mendung, berair dan basah. Itu karena aku menunggu seseorang untuk hadir di hariku. Ya, 3 Februari adalah hariku.
Sudikah dia mendatangiku esok hari ? Ah... aku terlalu buru-buru menanyakan itu. Aku tarik kembali pertanyaanku lalu ku ganti, ingatkah dia akan 3 Februari ?
Entahlah.....
</3
Sudikah dia mendatangiku esok hari ? Ah... aku terlalu buru-buru menanyakan itu. Aku tarik kembali pertanyaanku lalu ku ganti, ingatkah dia akan 3 Februari ?
Entahlah.....
</3
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kau harus segera temui kepalaku yang sekeras batu. Hingga detik ini Ia masih bertahan menunggumu. Jangan tanya mengapa Ia sekeras itu. ...