Kala itu, pertemuan tidak sengaja memicu dada semakin sesak saja.
Bagaimana tidak, genggaman tanganmu seolah menasbihkan bahwa Ia adalah milikmu. Kamu hanya ingin berbahagia bersamanya. Itu saja.
Tapi tak apa. Akupun bisa sedikit berbahagia menyadari kamu semakin terlihat mendewasa.
Sejak kepergian tanpa pamit dulu, aku jadi kehilangan waktu untuk sekadar memahami perkembangan hidupmu. Bukan aku tak mau, hanya kenyataan memaksa begitu.
Wajar, pikirku. Karena seseorang berhak mencari yang terbaik. Dan Ia yang selama ini kamu cari sudah dalam genggaman.
Berbahagialah dengan pilihanmu teman.
Bagiku pencapaian tertinggi ketika mencintaimu ialah tahu diri kemudian pergi.
Klaten, 13-01-2017
No comments:
Post a Comment