Teruntuk kamu yang kini ratusan kilo meter jauh dari gapaian.
Ada yang berbeda dari setangkup roti yang masuk dalam mulutku pagi ini. Setangkup roti tawar bulat yang dulu berisi cream mocca sekarang menjadi cokelat keju. Lebih dari itu, ada satu hal lagi yang perbedaannya begitu terasa. Teman makan roti kesukaanku. Kebiasaan tidak suka makan bagian pinggir roti tawar yang berwarna coklat sedari kecil masih terbawa hingga ke menengah atas. Bahagianya adalah punya teman yang rela menjadi "tempat sampah"ku. Aku makan bagian tengahnya, dia pinggirnya.
Dua tahun ini pagiku berbeda. Aku harus menelan semua bagian rotiku sendiri. Menyeruput cappucinnoku sendiri tanpa ada obrolan konyol kita di tengahnya. Selebihnya juga aku harus menyeka air mata pagi ini sendiri, menelan lelah dan amarah sendiri. Bukan, aku bukan sedang benar-benar sendiri. Hanya saja, mereka tak sama seperti kamu dan dia juga dia. Aku hanya rindu saat-saat aku tak banyak bercerita tapi kamu dan dia juga dia selalu ada berbagi tawa, canda, lelah, dan amarah.
Sepertinya harus kucukupkan secangkir rindu dan setangkup kenangan yang aku buat pagi ini. Jaga diri baik-baik. Peluk dan kecup dari jauh.
Dari aku yang kini sanggup menelan segala rasa
No comments:
Post a Comment