Perjalanan ini sungguh luar biasa. Menjalani, memperjuangkan, dan mempertahankan sendiri. Ya, s-e-n-d-i-r-i. Semua berawal dari kebaikan-kebaikan yang pernah kamu lakukan padaku. Kesalahanku adalah jatuh cinta padamu saat kesekian kalinya mendapatkan kebaikan itu. Seolah semestapun tahu jika aku sedang jatuh cinta, segala yang ada padamu terasa istimewa. Kebetulan-kebetulan sederhana terbaca sehati.
Tak terkecuali saat tak sengaja kita memakai warna baju yang sama dan juga saat mengambil kelas yang sama. Apa benar ini sebatas kebetulan? Sebenarnya 'kebetulan' itu ada tidak ya? Pernah ku dengar pernyataan-pernyataan orang mengenai 'kebetulan'. Ada yang bilang di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Ada pula yang bilang kebetulan itu memang ada. Ahh.... hanya kebetulan saja, begitu hiburku. Namun kejadian itu terjadi berkali-kali, aku mulai berpikir lain. Atau justru ada hal yang sedang Sang Maha Cinta tunjukkan padaku?
Entah apa yang terjadi, taktik stalking'ku begitu menggila. Mencari semua hal tentangmu di berbagai media sosial milikmu. Itu aku lakukan bukan tanpa alasan. Sebab aku dan kamu tak punya banyak kesempatan untuk bertukar ucap. Bagaikan terjun dari El Capitan rasanya, setelah melihat sebuah laman media sosialmu statusnya berpacaran dengan seseorang. Itulah menjadi titik awal dimana aku merasa salah menilaimu. Tak seharusnya aku berprasangka lebih akan kebaikanmu, sebab kamu melakukan kebaikan memang selayaknya manusia harus berperilaku baik terhadap sesama. Tak seharusnya pula aku berprasangka lebih akan tatapan matamu yang ku nilai berbeda, sebab matamu memang masih berfungsi dengan baik untuk menatap siapa-siapa saja yang ingin kau tatap. Apa yang ku nilai 'sehati' berubah menjadi 'isyarat tak bermakna'. Ku sebut demikian karena aku tak mau memaknai terlalu dalam (lagi).
Aku tak mau lagi mereka-reka segalanya yang begitu abu. Kini aku tak lagi berharap banyak. Bersama atau tanpamu, aku akan
Dariku, yang kau sebut teman.
luar biasa....
ReplyDeletepujangga benar
Hmm,, tulisannya asik. Meskipun sedih, ada pesan jujur di balik tulisan ini.
ReplyDeleteterima kasih
Delete