Mata hakim dimana-mana.
Di dunia maya apalagi nyata. Di titik tertinggi apalagi terendah mereka setia.
Sungguh sulit dipahami, mata-mata macam apa yang menjadikan penghakiman sebagai
hak dan gaya hidup?
Tumbuh di dunia
yang penuh dengan penghakiman sesungguhnya tidak membuat benar-benar utuh. Mengikuti apa yang
mereka mau. Menjalani apa yang menurut mereka baik. Menjauhi apa yang menurut
mereka tidak pantas. Lalu untuk apa? Membuat semua mata bahagia? Kemustahilan
semata. Yang ada hanya kerinduan pada dunia yang dibangun sendiri sebelumnya,
dunia yang sunyi bahkan jauh dari kata jenuh.
Sebagai manusia biasa
yang sedang mendewasa, sempat terusik dengan hakim-hakim tak berpenghasilan.
Tapi, bukankah masa depan ialah milik sendiri? Cukup setia dengan proses lalu
pencapaian-pencapaian akan mengikuti. Sampai pada saatnya para mata hakim akan
tertunduk malu karena ia tak maju-maju. Kelak aku akan menjadi yang terdepan
sedangkan tatapan mereka hanya kekosongan. Hanya Sang Hakim Yang
sesungguhnyalah yang berhak menghakimi.
Jogja, 20 Juni 2016
This is what happens to our society currently TT. Nice piece of thought!
ReplyDeleteTerima kasih sudah membaca & respon:)
ReplyDelete